Postingan

Tidak diketahui

Merakit rindu, di ujung pilu, kadangkala aku ingin menepis tentangmu sampai pada kilometer yang jauh sampai tak lagi bisa aku tempuh Tapi apa daya, aku makhluk tak berdaya yang aku bisa, sekedar melihat bayangmu dengan lapang dada -Aksarasa 

Energi di Bandung yang Sunyi

      Kerikil tajam aku hadang, aku berdiri di bawah awan panas yang menggantung. Aku menelusuri kota dengan menopang beban. Dan sayapku, sudah hilang separuh. Jikalau terbang, tak sesempurna dahulu. Tatapanku yang sayu menatap kejinya dunia sembari menunggu motor tua kakek yang tak juga muncul. Kakek tak tiba juga sampai alam swastamita memudarkan warnanya. Alam swastamita sudah benar-benar menyisakan cahaya malam yang tak begitu aku suka. Sebab, malam bagiku hanya tempat makhluk Tuhan menikmati sesaknya dalam-dalam. ....... Aku termenung di halte dekat kampusku. Aku...      Aku melupakan motor kakek, beristirahat dalam ruangan yang cukup luas lebih membuat diriku tenang. Aku tak lagi merasa lelah menunggu. Kamar sepetak cukup untuk aku merenungi segala hal di tengah kota Bandung yang bagiku lebih sunyi dibanding kota kelahiranku. Aku di sini bebas menikmati hari, bebas meneliti debu dan bergaya sesukaku, sesuai yang aku mau.       Dart...

03-05-2024 "Ibu dan Aku di Perantauan

Siulan telpon genggam sedikit mengganggu tidurku, tapi aku tak apa sebab aku suka jika layar bercahaya itu tertulis jelas nama "Momster" Nama yang ku pakai untuk kontak WhatsApp ibuku. Ibu di sebrang sana mengadu. Katanya, 4 insan yang semula bahagia kini sedang terbaring lemah di atas ranjang berwarna monokrom. Tadi aku bahagia, sekarang aku meredupkan bahagia itu, bayanganku pada dunia yang biru kini menjadi buram. Aku tak memikirkan bahagia untuk sekarang. Aku ingin ibu sehat dan jiwa lainnya sehat. Pikiranku kadang meminta pulang. Aku merasa tak nyaman. Aku khawatir, aku merasa ada sembilu yang menusukku secara perlahan.  Persoalan bangun dari ranjang tadi, Siulan itu melepaskan rekatan yang sudah erat antara tubuh dan ranjangku. Ibu membuat telpon genggam di atas meja coklat berdering, katanya di sebrang sana "Kamu kuliah hari ini?" Aku hendak menjawab tapi seperti ada yang berbeda "Kemana" Aku merindukan suara lantangnya sekarang. "Kemana suara ...

Rumah Rusak

Garpu yang ku pegang kadangkala menyakitkan Nasi itu untuk dimakan bukan dilempar Aku menyesali beberapa keadaan. Takut Terjebak dalam jeritan Malam itu harusnya indah Sebatang coklat aku menjadi tak suka Coklat itu bawa kebahagiaan bukan? Saat pria paruh baya mengajakku ke supermarket, lalu ia membelikan sebatang coklat. Aku sungguh menyukai detik itu. Tapi setelahnya? Mungkin tetangga bertanya Ada keriuhan apa di rumah itu? Huuu Panutanku menyeramkan, panutanku sekejab menghilang. Aku pandang ia seperti orang yang baru aku kenal. Dan aku tak suka. Tak suka kalau ia menumpahkan amarahnya. Aku tak terima! Ia kadang menghilang di kegelapan malam. Menyusuri kota mungkin?  Membuat aku termenung dan ketakutan.  -saa

Beda Agama

"Karena sebelum ada kata yang mengikat kita hanya pemilik sementara. Semuanya masih milik semesta dan siapapun masih bisa jadi pemiliknya." Runtuh. Dengan mata yang sebentar lagi dihiasi air nestapa. Gadis itu bersandar pada birai yang agaknya masih sangat kokoh. Di atas fly over di bawah langit jingga. Ditemani obrolan kecil pedagang kaki lima, bisingnya kendaraan dan sosok yang satu tahun lebih tua darinya. "Kamu sudah tau dari awal bukan? Biarpun semesta tidak memilikimu. Mengikatmu dengan kata - kata adalah hal yang mustahil. Karena kita hanya dua orang yang dipertemukan secara tidak sengaja dengan takdir menemani bukan memiliki." -saa

Riuh Merusak

Riuh yang bersemayam dalam pikiran Aku ingin menghapusnya seperti aku tak lagi memandang bulan Tapi luruh buat aku tak bisa Kendali raga hilang entah kemana Aku menangis Bersemayamnya ia merusak naluri hati Memuncakkan emosi di setiap sudut berduri Menghilangkan kesungguhan jiwa yang tenang Aku ingin menghilang Riuh yang bersemayam tak kunjung meminta pulang Ia menetap Merusak sebagian dari separuh yang telah ku singkirkan -saa

Hening, Hilang, Penyesalan

Wanita malang menabrak sarayu. Semalam ia dihantui rasa bersalah yang berumah di pikiran. Saat awan menghitam ia berlari menuju batas kota. Tak ada apa - apa selain hembusan nafas yang berat. Ternyata, tuan muda secepat itu menghilang. Menyisakan goresan nestapa dan padika indah di atas kertas berwarna monokrom. Terdayuh akan penyesalan dikelilingi kenangan yang mustahil andam karam. Tuan muda hilang dan pergi, karena dihari lalu hening dan ego menyelimuti wanita malang. Sekarang apa yang menghantui ? Penyesalan. -aksaraasa