Energi di Bandung yang Sunyi
Kerikil tajam aku hadang, aku berdiri di bawah awan panas yang menggantung. Aku menelusuri kota dengan menopang beban. Dan sayapku, sudah hilang separuh. Jikalau terbang, tak sesempurna dahulu. Tatapanku yang sayu menatap kejinya dunia sembari menunggu motor tua kakek yang tak juga muncul. Kakek tak tiba juga sampai alam swastamita memudarkan warnanya. Alam swastamita sudah benar-benar menyisakan cahaya malam yang tak begitu aku suka. Sebab, malam bagiku hanya tempat makhluk Tuhan menikmati sesaknya dalam-dalam. ....... Aku termenung di halte dekat kampusku. Aku... Aku melupakan motor kakek, beristirahat dalam ruangan yang cukup luas lebih membuat diriku tenang. Aku tak lagi merasa lelah menunggu. Kamar sepetak cukup untuk aku merenungi segala hal di tengah kota Bandung yang bagiku lebih sunyi dibanding kota kelahiranku. Aku di sini bebas menikmati hari, bebas meneliti debu dan bergaya sesukaku, sesuai yang aku mau. Dart...