Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2024

Rumah Rusak

Garpu yang ku pegang kadangkala menyakitkan Nasi itu untuk dimakan bukan dilempar Aku menyesali beberapa keadaan. Takut Terjebak dalam jeritan Malam itu harusnya indah Sebatang coklat aku menjadi tak suka Coklat itu bawa kebahagiaan bukan? Saat pria paruh baya mengajakku ke supermarket, lalu ia membelikan sebatang coklat. Aku sungguh menyukai detik itu. Tapi setelahnya? Mungkin tetangga bertanya Ada keriuhan apa di rumah itu? Huuu Panutanku menyeramkan, panutanku sekejab menghilang. Aku pandang ia seperti orang yang baru aku kenal. Dan aku tak suka. Tak suka kalau ia menumpahkan amarahnya. Aku tak terima! Ia kadang menghilang di kegelapan malam. Menyusuri kota mungkin?  Membuat aku termenung dan ketakutan.  -saa

Beda Agama

"Karena sebelum ada kata yang mengikat kita hanya pemilik sementara. Semuanya masih milik semesta dan siapapun masih bisa jadi pemiliknya." Runtuh. Dengan mata yang sebentar lagi dihiasi air nestapa. Gadis itu bersandar pada birai yang agaknya masih sangat kokoh. Di atas fly over di bawah langit jingga. Ditemani obrolan kecil pedagang kaki lima, bisingnya kendaraan dan sosok yang satu tahun lebih tua darinya. "Kamu sudah tau dari awal bukan? Biarpun semesta tidak memilikimu. Mengikatmu dengan kata - kata adalah hal yang mustahil. Karena kita hanya dua orang yang dipertemukan secara tidak sengaja dengan takdir menemani bukan memiliki." -saa

Riuh Merusak

Riuh yang bersemayam dalam pikiran Aku ingin menghapusnya seperti aku tak lagi memandang bulan Tapi luruh buat aku tak bisa Kendali raga hilang entah kemana Aku menangis Bersemayamnya ia merusak naluri hati Memuncakkan emosi di setiap sudut berduri Menghilangkan kesungguhan jiwa yang tenang Aku ingin menghilang Riuh yang bersemayam tak kunjung meminta pulang Ia menetap Merusak sebagian dari separuh yang telah ku singkirkan -saa

Hening, Hilang, Penyesalan

Wanita malang menabrak sarayu. Semalam ia dihantui rasa bersalah yang berumah di pikiran. Saat awan menghitam ia berlari menuju batas kota. Tak ada apa - apa selain hembusan nafas yang berat. Ternyata, tuan muda secepat itu menghilang. Menyisakan goresan nestapa dan padika indah di atas kertas berwarna monokrom. Terdayuh akan penyesalan dikelilingi kenangan yang mustahil andam karam. Tuan muda hilang dan pergi, karena dihari lalu hening dan ego menyelimuti wanita malang. Sekarang apa yang menghantui ? Penyesalan. -aksaraasa 

E

Aku tengah beristirahat dalam puisi Tertidur dan terbangun di antara para diksi-diksi Karena ucapmu kemarin membuat aku luruh Sekarang aku ingin menjauh ... Mencoba untuk tak lagi dengar suaramu -aksaraasa 

E

Sebelum pagi aku kehilangan kata Malamku buta syair balutan nestapa Dihiasi angin dan armada sunyi yang bercengkrama Kamu, S(e)orang yang dijelma fantasi Hadir di pertengahan sunyi menghiasi malam Bersamaan dengan nafas dan detakku yang tak beraturan -aksaraasa 

Januari Sendu

Berteduh di tempat yang kau larang Berucap pasrah di tengah kegaduhan Mulut ini melukai dengan kata yang terlontar sengaja Dan kaki menjauhi pandangan dua sosok yang memikul harap harsa  Sarayu menabrak ia yang mencoba hirap Dan air nestapa tidak akan berlabuh di tengah - tengah gelap Januari sendu tanpa cinta Seuntai kata ku tulis di awal bulan tentang nestapa Tentang cinta yang ku kembalikan pada semestanya Dan tentang kita yang sudah mengakhiri kisah romansa remaja Januari sendu air mata nestapa Lintang tak ada dan goresan tak indah terlihat berwarna  Menyisakan sembab di mata Dan plaster di tangan kiri satu di antara kedua remaja Dan ini adalah ulahku, terciptanya aksara sendu adalah ulahku -aksaraasa