Energi di Bandung yang Sunyi
Kerikil tajam aku hadang, aku berdiri di bawah awan panas yang menggantung. Aku menelusuri kota dengan menopang beban. Dan sayapku, sudah hilang separuh. Jikalau terbang, tak sesempurna dahulu. Tatapanku yang sayu menatap kejinya dunia sembari menunggu motor tua kakek yang tak juga muncul. Kakek tak tiba juga sampai alam swastamita memudarkan warnanya. Alam swastamita sudah benar-benar menyisakan cahaya malam yang tak begitu aku suka. Sebab, malam bagiku hanya tempat makhluk Tuhan menikmati sesaknya dalam-dalam.
.......
Aku termenung di halte dekat kampusku.
Aku...
Aku melupakan motor kakek, beristirahat dalam ruangan yang cukup luas lebih membuat diriku tenang. Aku tak lagi merasa lelah menunggu. Kamar sepetak cukup untuk aku merenungi segala hal di tengah kota Bandung yang bagiku lebih sunyi dibanding kota kelahiranku. Aku di sini bebas menikmati hari, bebas meneliti debu dan bergaya sesukaku, sesuai yang aku mau.
Dart di kamarku adalah saksi kalau aku benar-benar luruh dengan keputusan yang aku buat. Ia sakti dan sakit, tiap aku kecewa dan sedih aku lemparkan peluru kepadanya. Tapi itulah cara kerja dart, disakiti untuk membuatku bahagia sesaat. Namun ternyata, di kota yang bagiku sunyi ini, di sepetak lahan yang aku tempati, sayapku perlahan tumbuh. "Huu" Jika bisa dirasakan, hembusan nafasku beraroma kebahagiaan. Kalau dalam bahasa sansekerta hembusan nafasku mengalir dengan buih-buih harsa. "Huu" Ini terjadi bersama tawa yang beberapa makhluk tuhan beri kepadaku. Aku kenal mereka namun tak begitu memahaminya. Hanya saja aku tahu, ada niat baik yang tertanam dan tercipta dari masing-masing pribadi mereka yang masih buram. Rasanya sekarang, seperti, aku mencari sumber mata air saat Pramuka kelas 2 SMP, aku kini menemukan dari mana kebahagiaan itu berasal setelah sayapku menghilang separuh, setelah bahagiaku memudar penuh.
Bebanku masih ada di pundak, memang, tapi berat yang terasa semakin berkurang. Aku tak menyangka kalau hal itu akan terjadi secepat ini. "Siapa mereka?" Belum begitu aku memahaminya tapi, ajaib, yang mereka beri efeknya selalu saja baik. Tubuhku, seperti, berdifusi dengan kebahagiaan tiap kali berinteraksi dan bercengkrama hangat dengan mereka. Padahal, kami bertemu tak sengaja bahkan tanpa interaksi mata. Tapi baiknya kami berteman baik. Dan Tuhan itu, Maha baik. Sekarang aku sadar bahagia bisa datang dari mana saja. Tak harus dari seseorang yang sangat diharapkan kehadirannya, tak harus dari goresan nestapa di tangan kiri yang membuat makhluk Tuhan tenang, tak harus dari puntung rokok yang jika dihisap menebarkan aroma kebahagiaan dan tak harus dari minuman beralkohol yang membuat tawa di alam bawah sadar. Ternyata, bahagia bisa dari sesuatu yang ada di depan mata. Bahagia, selalu, ada. Huu! kadangkala makhluk denial seperti aku lama menyadarinya.
Komentar
Posting Komentar