03-05-2024 "Ibu dan Aku di Perantauan


Siulan telpon genggam sedikit mengganggu tidurku, tapi aku tak apa sebab aku suka jika layar bercahaya itu tertulis jelas nama "Momster" Nama yang ku pakai untuk kontak WhatsApp ibuku. Ibu di sebrang sana mengadu. Katanya, 4 insan yang semula bahagia kini sedang terbaring lemah di atas ranjang berwarna monokrom. Tadi aku bahagia, sekarang aku meredupkan bahagia itu, bayanganku pada dunia yang biru kini menjadi buram. Aku tak memikirkan bahagia untuk sekarang. Aku ingin ibu sehat dan jiwa lainnya sehat. Pikiranku kadang meminta pulang. Aku merasa tak nyaman. Aku khawatir, aku merasa ada sembilu yang menusukku secara perlahan. 

Persoalan bangun dari ranjang tadi,

Siulan itu melepaskan rekatan yang sudah erat antara tubuh dan ranjangku. Ibu membuat telpon genggam di atas meja coklat berdering, katanya di sebrang sana "Kamu kuliah hari ini?" Aku hendak menjawab tapi seperti ada yang berbeda "Kemana" Aku merindukan suara lantangnya sekarang. "Kemana suara itu" Suara dari hatiku berbisik. Aku berpikir berlebihan "Kenapa suara ibu melemah? Kemana suara lantangmu yang tiap kali aku dengar aku ingin menghindar? Kenapa suaramu kini menyisipkan sesak dalam-dalam." Aku masih terdiam dengan kebingungan. Pasti di rumah sedang tidak aman. Aku marah pada diriku sendiri, aku ingın bertengkar tapi apa bisa bertengkar dengan diri sendiri. Aku marah! Aku tak bisa mendampingi mereka. Hembusan nafasku berada di tanah rantau.

Benar saja, empat bahagiaku itu sedang tidak bisa menampakkan senyumnya. 

Lalu aku bersedih hati, tak semangat untuk mengawali pagi. Termenung di bawah gantungan awan. Pandanganku sedang kelam, aku hanya bisa memuncakkan emosi di setiap sudut berduri kala alam bawah sadar ku mengulang-ngulang rekaman suara ibu tadi. Aku ingat, kata ibu "Ayah, mama dan adikmu sakit. Doakan ya" katanya, suaranya terdengar lesuh sekali. Aku sampai berpikir dengan suara ibu yang melemah ia seperti tak memiliki semangat untuk menyiapkan asupan gizi di pagi hari.

Aku jadi tak aman,

aku ikut, ikut merasa sakit padahal 1 menit sebelum ibu membuat telponku berdering aku sehat walafiat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tidak diketahui

Energi di Bandung yang Sunyi

Hening, Hilang, Penyesalan